Refleksi 100 Tahun Kebangkitan Nasional (Bagian Dua)

Thursday, July 17th, 2008

Download PDF.
Sambungan dari bagian satu.

Sekedar Sensasi, Bukan Esensi

Dalam peringatan 100 tahun kebangkitan nasional ini kita disuguhkan dengan sebuah irasionalitas. Di saat sebagian besar penduduk negeri ini terpuruk dan terancam lebih terpuruk lagi menjelang kenaikan harga BBM, sebagian penduduk yang lain justru mengekspresikan kebangkitan nasional dengan berbagai seremonial dan simbolisme hedon. Ada festival obor yang dilangsungkan di Jakarta dengan meriah. Ada konvoi 250 Moge, di tengah krisis energi nasional, yang ‘minum’ banyak bensin bersubsidi dengan tajuk Jalur Merah Putih yang menjadi populer karena kecelakaan yang menimpa Sophan Sophiaan. Ada pembangunan tugu kebangkitan nasional oleh Menpora yang, entah apa maksudnya, menggunakan unsur tanah dan air dari 33 propinsi di Indonesia.

Dan dalam skala nasional ada malam perayaan super mewah yang melibatkan ribuan orang dengan sistem pencahayaan dan suara ribuan watt yang diadakan di Stadion GBK yang dihadiri Presiden beserta para pejabat tinggi Negara. Kita melihat gambaran sempurna dari masyarakat Indonesia pada berbagai festival itu. Kita melihat anak-anak Indonesia yang sehat, pintar dan berprestasi. Mereka semua tentunya berpakaian dengan layak dan bergizi baik pula. Kita melihat sebuah ‘festival untuk kaisar’ ala feodalisme diadakan di stadion GBK. Kita juga melihat kelompok ‘masyarakat impian’ yang mampu menghamburkan devisa untuk membeli Moge impor seharga ratusan juta rupiah dalam konvoi Moge Jalur Merah Putih.

Sementara di saat yang sama kita menyaksikan fragmen riil yang berbeda. Kita melihat demonstrasi menentang rencana kenaikan harga BBM marak di berbagai daerah, di saat yang sama juga kita melihat kartu BLT mulai dibagikan oleh pemerintah yang diwarnai dengan kericuhan antara warga dengan aparat desa yang membagikan, dan di saat yang sama juga kita lihat mulai terungkapnya penimbunan BBM di berbagai tempat untuk meraih untung saat harga BBM naik. Kita juga menyaksikan ribuan nelayan tidak bisa melaut karena tidak mampu membeli bahan bakar. Mereka menganggur. Belum lama ini juga kita menyaksikan ibu dan anak kita mati karena kelaparan. Lalu dimana letak kebangkitan itu?

Harus kita akui bahwa kita adalah bangsa yang lebih menyukai sensasi ketimbang esensi. Bayangkan, isu krusial tentang rencana kenaikan harga BBM nyaris hilang hanya karena dialihkan isu SMS santet. Persis seperti kemunculan kolor ijo beberapa tahun yang lalu. Inilah kondisi masyarakat kita di peringatan 100 tahun kebangkitan nasional ini, mereka miskin, bodoh dan konsumtif. Ini masalah kita. Dan jika kita ingin bangkit maka masalah inilah yang harus kita selesaikan, bukannya malah mengerdilkan makna kebangkitan nasional dengan berbagai festival dan seremonial di tengah keterpurukan yang terjadi.

Rachmad Satriotomo
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UI