Refleksi 100 Tahun Kebangkitan Nasional (Bagian Satu)
Thursday, July 17th, 2008Download PDF.
Sejak didirikannya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, tak terasa sudah 100 tahun usia kebangkitan nasional kita. Namun esensi dari kebangkitan nasional itu sendiri nampaknya tidak cukup kuat menembus zaman, seperti Budi Utomo yang juga tidak cukup kuat untuk terus berkiprah melewati masa-masa perjuangan. Dari tahun ke tahun Indonesia tidak juga bangkit. Hal ini terjadi karena ada yang salah dengan konsep kebangkitan nasional yang kita anut. Kesalahan konsep kebangkitan nasional itu tercermin dari pilihan momentumnya yang kurang tepat.
Meluruskan Sejarah Kebangkitan Nasional
Selama ini momentum kelahiran Budi Utomo diperingati sebagai hari kebangkitan nasional, 20 Mei 1908 dipandang sebagai babak baru perjuangan bangsa Indonesia menuju kebangkitan nasional. Padahal Budi Utomo sendiri merupakan organisasi elit yang hanya mengakomodasi segelintir masyarakat dari suku dan golongan sosial tertentu, yaitu ningrat Jawa. Sangat spesifik. Bahkan menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, sejarawan, Budi Utomo menolak persatuan Indonesia dalam kongresnya pada bulan April 1928. Penolakan itu dilanjutkan dengan penolakan Budi Utomo atas bahasa Indonesia, tercatat mereka lebih menyukai bahasa Belanda dan Jawa sebagai bahasa nasional. Singkatnya Budi Utomo menolak isi Sumpah Pemuda yang notabene adalah batu pijakan penting perjuangan bangsa Indonesia. Lalu kebangkitan nasional macam apa yang kita lihat dari pendirian Budi Utomo?
Melihat fakta yang demikian maka sudah seharusnya kita mencoba untuk mengevaluasi kembali pilihan momentum kebangkitan nasional kita. Momentum kebangkitan nasional seharusnya dinisbatkan kepada momen yang lebih mengakomodasi kebangkitan seluruh rakyat Indonesia, bukan sekedar kebangkitan segelintir elit saja.
Dalam dunia modern ini, setiap kebangkitan pastilah dipengaruhi oleh unsur manusianya. Dengan kata lain pembangunan sumber daya manusia menjadi penting disini. Semakin unggul manusianya, maka akan semakin unggul pula negara tersebut. Setidaknya ada dua hal mendasar dalam pembangunan sumber daya manusia, yaitu pendidikan dan kesehatan. Pendidikan akan memengaruhi kualitas manusia dari sisi kekuatan pikiran dan pembentukan karakter, sedangkan kesehatan memengaruhinya dari sisi kekuatan fisik. Kesemuanya itu akhirnya akan bersinergi dalam menghasilkan produktifitas yang amat diperlukan dalam kebangkitan nasional sebuah bangsa.
Sementara itu, pada 18 November 1912 KH Ahmad Dahlan memfasilitasi pendidikan pertama yang terbuka bagi rakyat Indonesia dengan mendirikan Muhammadiyah. Itu artinya 10 tahun di depan Taman Siswa yang didirikan pada 1922 oleh Ki Hajar Dewantara yang dicatat sebagai momentum kebangkitan pendidikan nasional. Muhammadiyah pada akhirnya diakui jauh lebih berperan dalam masyarakat ketimbang Taman Siswa maupun Budi Utomo. Dalam perkembangannya Muhammadiyah terlibat aktif dalam beberapa bidang pelayanan masyarakat, diantaranya pendidikan dan kesehatan. Sampai saat ini Muhammadiyah tercatat memiliki ribuan sekolah dari jenjang taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi dan rumah sakit yang tersebar di hampir seluruh pelosok nusantara. Ditambah dengan organisasi-organisasi di bawahnya yang bergerak dalam bidang kepemudaan, kewanitaan dan lain sebagainya, tak diragukan lagi, Muhammadiyah merupakan aset besar yang selayaknya mendapatkan tempat dalam sejarah kebangkitan nasional bangsa Indonesia.
Bersambung ke bagian dua.
Rachmad Satriotomo
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UI
