Menyesal
Sunday, November 9th, 2008Download PDF
Pagi itu, Usamah terduduk lemas di kursinya. “Ya Allah, jawablah kebimbangan hati hamba ini..” Saat ini usamah sedang berpikir, Anaknya sedang sakit keras. Dokter-dokter klinik dan puskesmas pun sudah angkat tangan, dan menyarankan untuk pergi ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap. Dan tentu saja biaya-nya tidak akan murah untuk orang kecil macam Usamah. Sebetulnya ia bisa saja mendapatkan uang untuk berobat anaknya. Kemarin ia menemukan dompet seseorang berisi uang 2 juta rupiah, tentu saja beserta KTP pemiliknya. Saat ini ia sedang bimbang, mengambil dompet itu dan menerima dosa, atau mengembalikannya dan membiarkan anaknya sakit, Bahkan bisa meninggal.
Berulang kali istrinya menyuruh Usamah untuk membawa anaknya ke rumah sakit menggunakan uang itu. Namun usamah tetap berpegang pada iman-nya. Ia yakin Allah akan memberikan jalan pada hambanya yang membutuhkan. 3 hari berlalu, Usamah semakin bimbang, karena sakit anaknya makin hari makin parah. Ia mulai berfikir untuk menggunakan uang itu, sesaat kemudian adzan maghrib terdengar. Segera diusir-nya pikiran jahat itu, ia pun pergi ke masjid.
Usai sholat maghrib di masjid, ia berkonsultasi kepada ustad yang sedang menjadi imam. Ustad termenung sesaat, lantas menjawab. “sebetulnya aku ingin sekali membantumu us, tapi buat sekarang aku cuma ada 1juta, aku ikhlas meminjamkannya kepadamu, kau boleh menggantinya kapanpun kau mau”. Usamah sangat bersyukur. Namun, tentu saja uang segitu tidak akan cukup untuk berobat ke rumah sakit mahal di jakarta. Tapi jika ditambah uang di dompet itu, tentu saja akan cukup.
Hari ke-empat, anaknya semakin pucat dan menggigil. Istrinya pun sudah mengancam akan cerai jika tidak menggunakan uang itu. Syetan semakin menggodanya untuk menggunakan uang itu, lama ia berfikir. Akhirnya, hatinya sudah bulat untuk menggunakan uang itu. Bersama istrinya, ia mencegat taksi, lalu membawanya ke rumah sakit umum daerah Pasar Rebo.
Hari ke-delapan, ia menangis tersedu penuh sesal. Anaknya meninggal karena sudah terlambat untuk dibawa ke rumah sakit, sedangkan uang 3 juta pun sudah habis untuk perawatan selama 3 hari. Karena sangat kecewa, istrinya pun sudah menceraikan dia. Setelah itu ia berkonsultasi kepada temannya, Usman. “Astaghfirullah, kamu gimana sih us?! Kenapa ga bilang ke aku? Aku kan bisa bantu minjemin uang ke kamu!”. Hati usamah bagai hancur, ia lupa bahwa ia masih mempunyai seorang sahabat karib bernama Usman, tangisnya semakin meledak. Usman berusaha menenangkannya, Usamah sangat menyesal. “Betapa meruginya aku..” batin Usamah, “Aku sudah kehilangan anak, istri… dan yang paling parah adalah..aku telah kehilangan imanku karena mengambil yang bukan hakku…..” tangis usamah semakin keras “aku telah melupakan seorang sahabat baik seperti kamu man..”. Sementara Usman hanya bisa diam mendengarkan.
Malam itu Usamah baru selesai sholat tahajud. Penuh sesal ia berdoa kepada Allah. “Ya Allah, padahal sebetulnya engkau memang telah memberi hamba mu ini solusi, melalui sahabat hamba, Usman. Namun, hambamu ini memang berpikiran terlalu sempit ya Allah..” malam itu begitu hening, Usamah berdoa memohon ampun kepada sang Robbi.
