Teori Konvergensi dan Liberalisasi Ekonomi (Bagian Dua)
July 17, 2008 – 7:10 amDownload PDF.
Sambungan dari bagian satu.
Liberalisasi Ekonomi
Namun kaum kapitalis di negara-negara maju berhasil meredam efek steady state dengan menggunakan taktik liberalisasi ekonomi. Kondisi steady state bisa “dimanipulasi” dengan beberapa cara. Pertama, liberalisasi tenaga kerja. Karena perbedaan tingkat upah, liberliasasi pasar tenaga kerja akan menyebabkan tenaga kerja mengalir dari negara-negara berkembang menuju negara-negara maju yang pada akhirnya akan menambah jumlah tenaga kerja di negara-negara maju. Dengan bertambahnya jumlah tenaga kerja maka rasio antara modal dengan tenaga kerja (K/L) akan turun, hal ini berarti keberlimpahan relatif modal atas tenaga kerja juga turun. Jika modal tidak melimpah lagi maka harga modal di negara-negara maju pun akan kembali naik.
Taktik pertama yang menambah jumlah tenaga kerja akan membawa implikasi pada bertambahnya hasil produksi negara-negara maju, sehingga mereka membutuhkan taktik selanjutnya untuk memperluas pasar. Kedua, liberalisasi perdagangan. Dengan WTO sebagai instrumen politiknya, negara-negara maju mengampanyekan free trade ke seluruh dunia. Seluruh negara di dunia nantinya diharuskan membuka pasar mereka dan menyerahkan seluruhnya kepada mekanisme pasar bebas. Padahal siapapun tahu bahwa pasar bebas hanya akan menguntungkan produsen yang kuat saja, tapi dengan alasan bahwa hal itu akan lebih menguntungkan buat konsumen maka kita pun menerima perjanjian perdagangan bebas. Mungkin itu karena para pengambil kebijakan di negeri ini telanjur berpendapat bahwa negeri kita ini cuma pasar, sehingga hal apapun yang menguntungkan konsumen pastilah menguntungkan kita juga. Jadi, taktik yang kedua ini sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari penerapan taktik yang pertama.
Ketiga, liberalisasi sektor finansial. Jika taktik pertama berusaha memperkecil rasio modal berbanding tenaga kerja (K/L) dengan cara menambah jumlah tenaga kerja (L), maka taktik yang ketiga ini berusaha memperkecil rasio itu dengan cara mengurangi jumlah modal (K). Liberalisasi sektor finansial menyebabkan para investor jangka pendek (spekulan) memindahkan modal mereka ke negara-negara yang menawarkan tingkat suku bunga riil yang tinggi. Dengan cara ini maka kelebihan modal yang tidak tidak produktif di negara mereka dapat digunakan untuk menghasilkan uang lagi di negara lain yang memiliki tingkat suku bunga riil tinggi. Hal inilah yang menjelaskan tentang fenomena meningkatnya investasi jangka pendek di Indonesia pada tahun 2006 lalu. Ketika itu suku bunga SBI mencapai 12.75% sedangkan ekspektasi inflasi sekitar 8%, maka ketika itu suku bunga riil yang ditawarkan Indonesia mencapai 4%, salah satu yang tertinggi di dunia.
Keempat, liberalisasi investasi. Jika taktik ketiga menjelaskan tentang investasi jangka pendek (spekulasi), maka taktik yang keempat menjelaskan tentang investasi jangka panjang. Logikanya sama seperti taktik ketiga, bahwa kaum kapitalis berusaha berusaha mengurangi modalnya di negara-negara capital abundant dan memindahkannya ke negara-negara labor abundant yang menawarkan return lebih baik, namun kali ini dilakukan dengan cara masuk ke sektor riil. Disahkannya UU Penanaman Modal yang amat liberal itu telah menunjukkan kepada kita betapa kuatnya pengaruh asing dalam proses pengambilan keputusan di Indonesia.
Untuk “menangkap” negara-negara maju, kita memang butuh investasi, tapi apalah artinya jika investasi asing justru mendominasi struktur investasi kita. Bukannya menambah pendapatan kita, penguasaan asing atas sektor-sektor produksi justru akan menambah modal yang dilarikan ke luar negeri setiap tahunnya (repatriasi). Jadi, dengan kondisi dimana liberalisasi ekonomi diterapkan, teori konvergensi mustahil terjadi. Dengan liberalisasi ekonomi, negara-negara maju tidak diam, tapi terus berlari meninggalkan kita. Sementara kita jangankan berlari, berjalan pun akan sulit karena setiap tahunnya akan semakin banyak saja pelarian modal akibat bertambahnya investasi asing. Dengan kondisi seperti ini, jangankan ingin “menangkap” negara-negara maju, bisa melihat dari kejauhan saja pun harusnya kita sudah bersyukur.
Rachmad Satriotomo
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UI

1 Trackback(s)
You must be logged in to post a comment.