Kenapa Inflasi Jahat? (Bagian Satu)
July 17, 2008 – 7:18 amDownload PDF.
Selalu menarik membicarakan uang. Uang sebagai penyimpan nilai menunjukkan bahwa semakin banyak uang yang kita punya akan semakin kaya diri kita, dan semua orang suka menjadi kaya. Maka dalam perkembangannya, uang akan mengalami apa yang saya sebut ‘konspirasi orang-orang cerdas egois’ yang dapat memanipulasi nilai uang dengan cara memahami cara kerja alamiahnya lalu menyabotasenya.
Money Creation
Uang bekerja secara alami ketika ia membiayai suatu kegiatan produksi dan mendapat keuntungan dari hasil produksi tersebut. Pada akhirnya jumlah uang akan bertambah sesuai dengan hasil produksi. Artinya penambahan kesejahteraan berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan, logika yang tidak sulit dimengerti. Namun ada saja orang-orang yang ingin meraih keuntungan tanpa melakukan usaha yang sebanding, dan sayangnya mereka ini orang-orang cerdas, maka efeknya pun menjadi berbahaya. Orang-orang cerdas ini –entah bagaimana caranya- mengubah paradigma bahwa ‘uang bertambah sesuai dengan penambahan jumlah produksi’, mereka menggantinya dengan paradigma bahwa ‘jumlah produksi harus mengikuti penambahan jumlah uang’. Saya katakan disini penambahan jumlah uang bukan pertambahan, karena memang jumlah uang itu ditambahkan, bukannya bertambah. Dan seperti yang kita tahu bahwa penambahan jumlah uang yang tidak sebanding dengan penambahan jumlah produksi barang dan jasa akan mengakibatkan nilai uang menurun terhadap barang dan jasa, kita menyebutnya inflasi.
Di buku-buku yang sering kita baca selalu saja disebutkan bahwa ketika pemerintah mencetak uang terlalu banyak, maka yang terjadi adalah inflasi. Tapi seringkali kita lupa bahwa bank juga dapat ‘mencetak’ uang dengan cara menyalurkan kredit, money creation by the bank. Dan itupun dapat menyebabkan inflasi. Bahkan kita harus lebih mewaspadai efek inflasi akibat penciptaan uang oleh bank daripada penciptaan uang oleh pemerintah, karena bank selalu menciptakan uang sedangkan pemerintah lebih jarang.
Inflasi Vs. Suku Bunga
Pandangan umum yang berlaku saat ini adalah bahwa suku bunga memiliki hubungan yang negatif dengan inflasi, menaikkan suku bunga berarti menurunkan inflasi. Ketika suku bunga dalam perekonomian naik maka orang akan tertarik untuk menyimpan uangnya di bank, sehingga akan mengurangi jumlah uang beredar, akibatnya saat itu inflasi turun. Tetapi konsekuensi dari penerapan suku bunga adalah adanya besaran tertentu yang harus dibayar oleh bank kepada nasabah pada saat bunga tersebut jatuh tempo. Misal, pada awalnya dalam sebuah perekonomian terdapat uang beredar sebanyak Rp 3000 triliun, lalu dengan iming-iming bunga sebesar 10% sektor perbankan berhasil meraup sepertiga dari dana tersebut atau setara dengan Rp 1000 triliun. Yang terjadi kemudian adalah deflasi, jumlah uang beredar dalam perekonomian tersebut turun menjadi duapertiganya saja atau Rp 2000 triliun. Tapi, setahun setelah itu ketika bunga telah jatuh tempo, perbankan harus membayar sejumlah 10% dari Rp 1000 triliun atau Rp 100 triliun kepada perekonomian. Maka, sekarang total uang dalam perekonomian dan perbankan menjadi Rp 3100 triliun. Alih-alih untuk mengurangi inflasi, penerapan suku bunga justru berpotensi mendatangkan inflasi yang lebih besar di kemudian hari.
Melanjutkan contoh kasus yang tadi, sebetulnya tidak menjadi masalah ketika jumlah uang dalam perekonomian tersebut bertambah Rp 100 triliun asalkan perekonomian itu juga mampu menghasilkan barang dan jasa senilai Rp 100 triliun dalam tempo yang sama. Jika hal itu bisa dilakukan maka tidak akan terjadi inflasi karena penambahan jumlah uang diikuti dengan penambahan jumlah barang dan jasa. Tapi yang jadi masalah saat ini adalah tidak adanya keterkaitan antara sektor riil dengan sektor finansial. Dalam contoh diatas, melalui suku bunga sebesar 10% sektor finansial menentukan bahwa dalam setahun kedepan jumlah uang akan bertambah sebanyak Rp 100 triliun, sedangkan yang menentukan bertambahnya jumlah barang dan jasa adalah sektor riil, yang belum tentu mampu memproduksi barang dan jasa senilai Rp 100 triliun dalam setahun. Ketika sektor riil tidak mampu menandingi ‘kinerja’ sektor finansial, maka yang terjadi adalah inflasi. Jadi inti permasalahannya adalah tidak adanya keterkaitan antara sektor finansial dengan sektor riil, anda tentu sudah dapat menduga bahwa faktor yang menyebabkan saling lepasnya antara sektor finansial dan sektor riil adalah penerapan suku bunga.
Bersambung ke bagian dua.
Rachmad Satriotomo
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UI

1 Trackback(s)
You must be logged in to post a comment.