Menanti Pangeran di Metropolitan: Lelang Cinta Kapitalisme
January 20, 2009 – 3:15 pmCepat dan effisien sepertinya merupakan kata-kata yang tepat menggambarkan citra kehidupan individu-individu metropolitan. Perkembangan komunikasi dan teknologi seakan telah menjadikan segala hal lebih instan dan cepat saji, tidak tanpa kecuali persoalan cinta. Ditengah hiruk pikuk tren kehidupan single dan imaji kebahagian yang semakin ramai menghiasi visualisasi di media, harapan akan labuhan hati pada sosok pasangan hidup dibenak jiwa kaum metropolis tampaknya masih mendapatkan ruang.
Rubrik kontak jodoh menyajikan kenyataan yang menarik. Data di KOMPAS sejak tahun 1980-1990, memaparkan mayoritas pengisi data di rubrik kontak jodoh adalah perempuan berdomisili di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Tujuh puluh persen diantaranya adalah gadis, 6% janda dan mayoritas berada pada kisaran umur 25-34 tahun. Mayoritas pengisi rubrik juga memiliki pendidikan yang tinggi - sarjana, padahal di Jakarta sendiri presentase berijasah sarjana muda hanya lima persen dari total penduduk. Kini rubrik ini semakin menggemuk. Tentunya bukan sekedar sebuah rubrik di media cetak, kontak jodoh bisa jadi sebuah representasi gejala kelas menengah kota besar. Terlebih dengan meningkatnya wadah di media massa, seperti program tv, hp hingga internet dalam mencari pasangan. Persoalan jodoh dan cinta telah menjadi fenomena tersendiri.
Medium kontak jodoh sebenarnya dapat dilihat sebagai bentuk pemasaran diri melalui representasi imaginasi identitas masyarakat saat ini. Hal yang sangat gamblang terbaca adalah kata-kata selektif menggambarkan identitas diri yang mayoritas dipenuhi dengan kata ‘cantik’, ‘putih’, ‘setia’ dan ‘sederhana’ atau ‘tidak materialistik’. Tentunya kata-kata ini menjadi rangkuman dari representasi nilai perempuan yang ‘menjual’ dalam masyarakat saat ini. Sangat menarik untuk dapat melihat korelasi dan persamaan representasi diri dalam baris-baris iklan ini dengan representasi perempuan di tercipta di berbagai media massa yang beredar disekitar kita.
Pada era yang terobsesi dengan komunikasi seperti saat ini, tanda dan imaji menjadi bagian yang telah mendominasi kehidupan budaya masyarakat secara global. Kekuasaan ideologi kapitalisme telah menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dalam keseharian manusia, hingga mitos dan nilai-nilai dalam domain personal pun turut dimasukan dalam ideologi kapitalisme, telah menjadi komoditi. . Tidak tanpa kecuali permasalahan cinta. Cinta tidak lepas dari konstruksi realitas media dan makna cinta pun bergeser seiring dengan terkomoditifikasikannya dalam arus budaya masa. Permasalahan utama adalah nilai-nilai yang terkooptasi oleh kapitalisme telah menggiring semua proses dalam meraihnya ke titik ekonomi dan apa yang terjadi dalam proses komodifikasi ini hanyanya penyajian nilai-nilai semu yang tidak pernah akan dapat teraih oleh individu.
Saat nilai-nilai individu ’modern’ ini dipenggang teguh dan ketidakberdayaan akan putaran arus budaya masa, kapitalisme pun hadir dengan solusi mencari pasangan sejati; kontak jodoh. Apakah mungkin dengan kontak jodoh ini akan menghasilkan pasangan hidup yang ideal dan langgeng? Pertanyaan ini pun masih menjadi tanda tanya besar, jangan-jangan medium kontak jodoh tidak lebih dari sekedar alat kapitalisme dalam menyeret kembali kehidupan dalam mengejaran nilai-nilai semu, dan juga, tentunya, cinta semu.
